Social Icons

Pasukan Diklat Teknis Peradilan

Minggu, April 05, 2009

Runtuhnya Rezim Saddam Husein : Sebuah Komedi Ilahi?

clip_image002[4]Mungkin sebagian dari kita masih menyisakan ingatan tentang peristiwa penggempuran yang dilakukan oleh Ameriksa Serikat bersama sekutunya memborbadir kota Baghdad. Mungkin pula sebagian dari kita yang muslim terpacu emosi solidaritas ukhuwah melihat penderitaan yang dialami penduduk kota Baghdad. Kita memang tidak bisa menutup mata terhadap penderitaan rakyat Irak, yang nota bene jelas-jelas tak menghendaki adanya peperangan. Namun pada sisi lain, kita juga tidak mungkin menutup mata atas perlakuan seorang Saddam Husein, Presiden sekaligus diktator yang terkenal ambisius, yang akhir hayatnya berujung di tiang gantungan. Tragis… tetapi juga sangat ironis. Betapa tidak, pada hari Rabu, tanggal 9 April 1980, melalui pengawal yang juga kerabatnya, Saddam memerintahkan untuk menembak mati seorang ulama besar Bagir al-Sadr, tepat di kepalanya.

Bagir al-Sadr adalah salah satu ulama besar abad 20 yang memiliki kharisma dan pengaruh yang cukup besar dan sangat dicintai oleh rakyat Irak. Bagir al-Sadr pernah mengeluarkan fatwa yang melarang mayoritas warga Syiah bergabung dengan Partai Ba’ats. Lantaran fatwa itulah Saddam murka, terlebih lagi Bagir al-Sadr menyerukan umat Islam agar mendukung Revolusi Islam Iran yang pada waktu itu dipimpin oleh Khomeini.

Kebencian rezim Ba'ats atas Bagir al-Sadr tidak lunas dengan kematiannya. Saddam meminta sejumlah pimpinan partai untuk menghapus seluruh jejak ulama besar abad 20 ini. Hingga pada saat Kru televisi Al­-Manar milik Hizbullah yang 4 tahun silam membuat film dokumenter tentang al-Sadr sampai tak bisa mengenali kuburannya. Mereka juga kaget melihat ru­mah keluarganya yang rata dengan tanah.

Persis hari Rabu 9 April 23 tahun setelah syahidnya Bagir al-Sadr, tentara AS merebut Baghdad dan merengsek istana Saddam. Patung Saddam yang semula berdiri gagah pun runtuh dan diinjak-injak ribuan orang. Masyarakat Syiah Irak percaya bahwa kesamaan hari dan tanggal eksekusi Bagir al-Sadr dan kejatuhan Saddam itu sebagai cemoohan takdir. Bahkan ada yang menganggap sebagai pembalasan langit. Inilah yang barangkali layak disebut sebagai komedi Ilahi.

1 komentar:

Terimakasih atas komentarnya

 

Komentar Tamu

Mengenai Saya

Foto saya
Tinggi di sebuah kota kecil, depok jawa barat, kalo mo kerumah koe dan nggak ketemu tanya aja ama tukang pos, dijamin Anda akan tersesat lebih jauh. Nah, mendingan kontak aja di viruscinta18@gmail.com. Mudah bukan,...Tetap semangat dan berkreatifivitas....Salam.

Link Penting

Sample Text